Pages

Sabtu, 19 November 2016

MAKAL STATISTIK YAHUUTTT

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Secara etimologi kata statistic berasal dari kata status ( bahasa latin ) yang mempunyai persamaan arti dengan kata state (bahasa inggris) atau staat ( bahasa Belanda ) ,dan yang bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi Negara . Pada mulanya statistic diartikan sebagai kumpulan bahan keterangan (data ) ,baik yang berwujud angka( data kuantitatif ) maupun data yang tidak berwujud angka ( data kulaitatif),yang mempunyai arti penting dan kegunaan bagi Negara.
Namun, pada perkembangan selanjutnya arti kata statistik hanya dibatasi pada kumpulan bahan keterangan yang berwujud angka . Mata kuliah statistika sangat dibutuhkan mahasiswa terutama saat seorang mahasiswa harus mengumpulkan data ,mengolah,menganalisis ,dan menginterpretasikan data untuk pembuatan skripsi,thesis atau desertasi.
Berdasarakan latar belakang tersebut penulis atau penyusun ingin mengetahui lebih jauh tentang statistik ,macam- macamnya,rumus cara penghitungannya dan contoh pengerjaannya.

1.2 Rumusan Masalah
1.    Apakah yang dimaksud pemusatan data, dan apa saja pembagian ukuran pemusatan data ?
2.    Bagaimanakah cara penyelesaiannya ?
3.    Apakah yang dimaksud pengukuran variabilitas dan apa saja macam variabilitas ?



1.3 Tujuan
1.    Untuk mengetahui pengertian pemusatan data dan pembagian ukuran pemusatan data
2.    Untuk mengetahui bagaimana cara penyelesaian dari macam-macam ukuran pemusatan data
3.    Untuk mengetahui cara penyelesaian dari macam- macam pengukuran variabilitas
4.    Untuk memenuhi tugas kelompok, mata kuliah al ihsha al tarbawiy















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengetian Ukuran Pemusatan Data
Ukuran pemusatan data adalah nilai tunggal dari data yang dapat memberikan gambaran yang lebih jelas dan singkat tentang pemusatan data yang juga mewakili seluruh data.
Ada beberapa macam ukuran pemusatan data antara lain, rata-rata, median, modus, kuartil, persentil. [1]
2.2 Macam- macam Ukuran Pemusatan Data
a.    Rerata
Terdapat tiga jenis rerata (mean) yakni ,rerata aritmatik, rerata ukur,dan rerata harmonik.
1.    Rerata Aritmatik .Dalam statistika ,sekumpulan data numeric dapat diwakili oleh satu nilai yang disebut rerata aritmatik. Cara menentukan rerat adapat dilakukan dengan dua cara ,yakni secara langsung dari data mentah (ungrouped data) atau dengan terlebih dahulu dikelompokkan ke dalam beberapa kelas atau kategori (grouped data) . Penghitungan rerata langsung dapat dihitung menggunakan rumus :

Dimana n jumlah data ,I =1,2,3,…..n. dengan menggunakan rumus seperti diatas .
Contoh :
Rerata dari lima buah data :54,76,73,37,45 adalah …
Jawab : X = 54+76+73+37+45 = 57
                              5
Penghitungan rerata data tersusun ditentukan dengan rumus :

Dimana f= frekuensi pada kelas i , i=1,2,3,…k, Xt= nilai tengah dari kelas i.
Contoh:

Penghitunganreratapengirimandan biro ekspedisi A

Nilai (xRp 1000)
Xt
fi
Xtfi
5,00-9,99
7,495
6
44,970
10,00-14,99
12,495
12
149,940
15,00-19,99
17,495
19
332,405
20,00-24,99
22,495
20
449,900
25,00-29,99
27,495
13
357,435
30,00-34,99
32,495
8
259,960
35,00-39,99
37,495
2
74,990

∑
80
1669,600
Dari table diatas diperoleh
2.    Rerata Ukur
Apabila perbandingan tiap dua data yang berurutan sama atau hampir sama ,perhitungan rerta lebih teliti jika dilakukan dengan menggunakan rerata ukur dari pada rerata aritmatik. Untuk sekumpulan data dimana i =1,2,3,…n rerata ukur dihitung menggunakan rumus :
Untuk bilangan-bilangan besar ,rumus diatas dapat dirubah ke dalam bentuk logaritma:
Sebagai contoh, tiga bilangan yang memenuhi syarat deret ukur 2000, 4000, 8000 akan memberikanlogaritma rerata ukur :
Dengan menggunakan kalkulator atau table,logaritma diperoleh U=4000
3.    Rerata Harmonik
Yaitu jika sebuah sampel berukuran n diperoleh diman i=1,2,3,…n,maka harmonic dihitung dihitung dengan rumus :
Contoh :
Seorang pengemudi melakukan  antar jemput staf perusahaan dari Jakarta –Cilegon dua kali pulang – pergi dalam sehari .Jarak Jakarta – cilegon sejauh 90 km itu ditempuh dengan kecepatan rata- rata 60 km/h ,45 km/h,40 km/h ,dan 36 km/h . Berapakah kecepatan rata – rata pengemudi itu menjalankan mobilnya dalam sehari ?Dengan menggunakan rerata harmonic ,diperoleh :
Catatan : untuk menjawab pertanyaan ini umumnya orang akan menggunakan rerata aritmatik : ( 60+45+40+36)/4=45,25 km/h. Jawaban ini salah karena untuk menempuh jarak 90 km itu masing- masinga data 1,5h,2,0h,2,25h,2,5h. Jarak yang ditempuh dalam sehari itu adalah 360/(1,5h+2,0h+2,25h+2,5h)= 360/8,25=43,64 km/h . Hal ini menunjukkan bahwa ,dengan menggunakan rumus rerata harmonic diperoleh nilai yang lebih mendekati nilai sebenarnya (selisih 0,06 km/h karena pembulatan pada perhitungan pecahan).
b.    Median
Ukuran kedua yang diggunakan untuk menentukan nilai sentral adalah median .Median adalah nilai tengah setelah sekelompok data disusun dalam urutan dari yang terkecil kenilai yang terbesar atau sebaliknya. Jika jumlah datanya ganjil, maka mediannya adalah angka yang terletak ditengah – tengah. Misalnya suatu sample menghasilkan data 12,7,8,14,16,19,10 . Setelah disusun menurut urutan nilai diperoleh 7,8,10,12,14,16,19 . Pada contoh ini mediannya adalah12 . tetapi jika datanya genap ,misalnya : 7,8,8,10,12,14,16,19maka mediannya berada diantara10 dan 12 , besar Me= (10+12)/2=11 . Jadi mediannya adalah 11.
Untuk data tersusun nilai median ditentukan menggunakan rumus berikut :
Me= b+p .
Me= median
b = nilai batas terendah dari kelas dimana median berada
 p = interval kelas median
 n =ukuran sampel
 F = Jumlah semua frekuensi dengan nilai tengah kelas lebih kecil dari pada nilai tengah median  
 f = frekuensi kelas median
contoh :
Penghitungan median pengiriman dan biro ekspedisi A

Nilai (xRp 1000)
Xt
fi
Xtfi
5,00-9,99
7,495
6
44,970
10,00-14,99
12,495
12
149,940
15,00-19,99
17,495
19
332,405
20,00-24,99
22,495
20
449,900
25,00-29,99
27,495
13
357,435
30,00-34,99
32,495
8
259,960
35,00-39,99
37,495
2
74,990

∑
80
1669,600
Diketahui median terletak pada kelas keempat ,sehingga b=20,00,p = 4,99, f = 20, n= 80 dan F = 37. Dengan menggunakan rumus diatas diperoleh :
Me = 20 + 4,99 .
Jadi , median yang di perolehdari data diatas adalah 20,75
c.    Modus
Untuk  menyatakan gejala sentral yang paling banyak terjadi digunakan ukuran modus.Jika sampel menghasilkan nilai 12,14,34,34,28,28,34,14,37 setelah disusun menurut urutan besarnya nilaidiperoleh 12,14,28,28,34,34,34,37, data ini menunjukkan nilai 34  muncul terbanyak (tiga kali) sehingga modus dari sample tersebut adalah Mo = 34 . dan untuk data yang tersusun seperti ini menggunakan rumus sebagai berikut [2]:
Mo = b + p .()
Penghitungan modus pengiriman dan biro ekspedisi A

Nilai (xRp 1000)
Xt
fi
Xtfi
5,00-9,99
7,495
6
44,970
10,00-14,99
12,495
12
149,940
15,00-19,99
17,495
19
332,405
20,00-24,99
22,495
20
449,900
25,00-29,99
27,495
13
357,435
30,00-34,99
32,495
8
259,960
35,00-39,99
37,495
2
74,990

∑
80
1669,600

Mo = Modus
 b = batas bawah kelas modus
f1 = selisih frekuensi anatara kelas modus dan frekuensi kelas sebelumnya
f2 = selisih frekuensi antara kelas modus dan kelas berikutnya
p = interval kelas modus
dari table diatas diperoleh b= 20, p= 4,99, f1 = 20- 19= 1, f2= 20-13 = 7 , sehingga
Mo = 20+ 4,99.(
Jadi, modus dari data tersebuta adalah ; 2,62

d.    Kuartil
Kuartil adalah titik yang membagi data yang telah diurutkan menjadai 4 bagian dan masing – masing 25%. Kuartil ada 3 macam ;
a. Kuartil bawah (K1) = 25% dari titik bawah
b. Kuartil tengah (K2) = 50% dari titik bawah
c. Kuartil atas (K3) = 75% dari titik bawah
Ki = Li +
Keterangan :
Ki = Kuartil ke- i
i = ke-i (1,2,3)
n = banyak data

Contoh :
Tentukan kuartil-kuartil dari data : 1,3,6,9,14,18,21 !!!
Jawab :
Jumlah data (n) =7
Posisi K1=
Maka nilai kuartil adalah 3
Posisi K2 =
Maka nilai kuartil 2 adalah 9
Posisi K3 =
Maka posisi kuartil 3 adalah 18


e.    Desil
Desil adalah nilai batas dari data yang telah diurutkan menjadi 10 bagian .
·         Desil data tunggal
Di =
Keterangan :
Di = desil ke- i
i = ke – i (1,2,3,4,5,6,7,8,9)
n = banyak data
contoh :
Diketahui data : 9,10,11,6,8,7,7,5,4,5
Tentukan desil ke-1 dan desil ke-4.
Jawab :
Data diurutkan:4,5,5,6,7,7,8,9,10,11 letak desil ke-1 diurutkan data-1/10
(10+1)=11/10=1,1
D1 terletak pada urutan ke -1,1 sehingga:
Jadi D1= +0,1()= 4+0,1(5-4)=4+0,1 =4,1
Letak desil ke-4 diurutkandata ke-4/10
(10+1)=44/10=4,4
D4 terletak pada urutan ke-4,4
Sehingga:D4 =
Jadi D4 =6 + 0,4(7-6)=  6+ 0,4 =6,4
f.     Persentil
Persentil yaitu titik yang membagi data yang telah diurutkan menjadi 100 bagian
Pi =
Keterangan :
Pi = Persentil ke-i
i = 1.2.3.4.5……,99
n = banyak data

2.2 Pengertian Pengukuran Variabilitas
Pengukuran Variabilitas ( dispersi ) adalah derajat penyebaran nilai-nilai variable dari suatu tendensi sentral dalam suatu distribusi. Bilamana dua distribusi, dikatakan  distribusi A dan disribusi B dibandingkan, dan distribusi A menunjukkan penyebaran nilai-nilai variabelnya yang lebih besar daripada distribusi B, maka dikatakan bahwa distribusi A mempunyai variabilitas yang lebih besar dari distribudi B.

2.3 Macam – Macam Pengukuran Variabilitas
1.    Range / Daerah Jangkau
Range adalah ukuran penyebaran yang paling sederhana, merupakan jarak antara nilai yang tertinggi dengan nilai yang terendah.
Dengan rumus :
 
Dengan R   =  Range
               =  Nilai tertinggi
             =  Nilai terendah

Contoh :
Tentukan range dari data 5 7 8 2 9 8 10 !
Jawab :   = 10
              = 2
Jadi

2.    Mean Deviasi / Simpangan Rata – Rata
Deviasi rata-rata adalah rata-rata dari deviasi nilai-nilai dari Mean dalam suatu distribusi, diambil nilainya yang absolute ( nilai-nilai yang positif ).
Secara aritmetik mean deviasi dapat didefinisikan sebagai mean dari harga mutlak dari deviasi nilai-nilai individual.
Dengan rumus :
a.    Data tunggal
       atau 
                                    Dengan SR= MD = Mean Deviasi
              = Jumlah deviasi dalam harga mutlaknya
                                                   = Selalu positif
                                                              = Nilai data
                                                            = Mean
                                                  N           = Jumlah individu / kasus / data

Contoh :
1.    Hitung mean deviasi dari 6 7 8 9 1 4 3 18 ?
Jawab :                                   sama tapi selalu positif
 

6
7
8
9
1
4
3
18
-1
0
1
2
-6
-3
-4
11
1
0
1
2
6
3
4
11

28








 =  = 3,5           


b.    Data berbobot
atau    

Contoh :
X
5
6
7
8
9
10
F
2
4
6
8
10
5

Jawab :
X
F
f.x
5
6
7
8
9
10
2
4
6
8
10
5
10
24
42
64
90
50
3
2
1
0
1
2
6
8
6
0
10
10
35
280
8
40




3.    Standar Deviasi / Simpangan Baku
Secara matematik standar deviasi dibatasi sebagai akar dari jumlah deviasi kuadrat dibagi banyaknya individu dalam distribusi. Deviasi rata – rata yang telah menempuh proses perhitungan. Deviasi standar atau standar deviasi biasanya dilambangkan dengan SD atau . Disebut standar deviasi, karena deviasi rata – rata yang tadinya memiliki kelemahan, telah di bakukan atau distandarisasikan sehingga memiliki kadar kepercayaan atau realibilitas yang lebih mantap. Oleh karena itu dalam dunia analisis statistic standar deviasi kedudukan yang amat penting. Standar deviasi bisa dicari dengan rumus sebagai berikut:
SD      = 
Keterangan :
SD      = Standar Deviasi
Σx²      = Jumlah semua deviasi, setelah mengalami proses penguadratan terlebih dahulu
N         = Banyaknya Data

Nilai Variabel (X)
Mean Deviasi (x) atau
|X-M|
Mean Deviasi Kuadrat (x²) atau |X-M|²
19
18
17
16
15
14
13
12
11
10
9
+5
+4
+3
+2
+1
0
-1
-2
-3
-4
-5
25
16
9
4
1
0
1
44
9
16
25
Jumlah: 154
Σx = 0
Σ² = 110

Penyelesaian :
SD      =
=
=
= 3,16



BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Statistik tidak akan pernah lepas dari pengukuran penyebaran data untuk mengetahui bagaimana penyebaran data tersebut, apakah penyebarannya homogen atau heterogen. Penyebaran data juga untuk mempermudah pembaca untuk membaca data yang kita miliki.



DAFTAR PUSTAKA

Hadi, Sutrisno. 2015. Statistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Subana, Rahadi Moerstyo, Sudrajat,2000.Statistik pendidikan.Bandung: Pustaka setia
Reksoatmodjo,Tedjo.2007.Statistika untuk Psikologi dan Pendidikan.Bandung:Refika Aditama



[1]Subana ,Moersetyo Rahadi, Sudrajat, Statistik Pendidikan.2000, hal 63
[2] Tedjoe Reksoatmojo,STATISTIKA untuk Psikologi dan Pendidikan. 2007, hal 27